Create a Joomla website with Joomla Templates. These Joomla Themes are reviewed and tested for optimal performance. High Quality, Premium Joomla Templates for Your Site

Sekarang, Industri Jamu Hadapi Dua Tantangan

Capai Pertumbuhan Ekonomi 7 Persen, Investasi Perlu Tumbuh 8,8 Persen
Maret 31, 2016
Kembangkan Industri Kreatif, Malang Siapkan Diri jadi Pusat Animasi Digital
Maret 31, 2016

Sekarang, Industri Jamu Hadapi Dua Tantangan

Sekarang, Industri Jamu Hadapi Dua Tantangan

Rabu, 30 Maret 2016 | 19:35 WIB

KOMPAS.com – Raut wajah Masyhari memancarkan kesan optimistik tatkala membicarakan perkembangan industri jamu. Pria kelahiran Demak 9 Juni 1962 ini lancar berbicara mengenai industri yang digelutinya sejak dirinya duduk di bangku kelas 3 SMA di Jakarta. Sejak 2011 sampai dengan 2015, Masyhari adalah Ketua Pengurus Harian Gabungan Pengusaha (GP) Jamu DKI Jakarta. Tahun ini, dia didapuk menjadi Ketua Panitia Musyawarah Daerah (Musda) V GP Jamu DKI pada Rabu (30/3/2016).

Ihwal industri jamu, lanjutnya dalam perbicangan denganKompas.com hari ini, tantangan pertama adalah di bidang pemasaran. “Membuat bahasa iklan menjadi sangat menarik itu sulit dan berat,” kata orang nomor satu di PT Hari Fatma, perusahaan pembuat jamu yang berbasis di Jakarta.

Ia memberi contoh jamu kesehatan stamina pria produknya. “Kalau bahasanya iklannya cuma (mencantumkan) ‘hanya untuk pria’, tentu enggak menarik,” akunya.

Di samping itu, masih terkait dengan bidang pemasaran, industri jamu, dalam pandangan Masyhari, mesti giat beriklan ke berbagai media. “Belanja iklan harusnya antara 20 persen sampai dengan 25 persen dari penjualan,” tuturnya.

Peraturan

Tantangan berikutnya adalah masalah peraturan. Masyhari menyoroti fungsi pemerintah mengenai masalah ini. Apalagi, dengan kenyataan bahwa mayoritas dari 1.200 perusahaan jamu nasional masuk dalam kategori usaha menengah ke bawah. Pasar produk industri jamu pun, kata Masyhari juga kebanyakan kalangan menengah ke bawah.

Ia memberi contoh pengalaman hidupnya saat kali pertama menjual produk. Waktu itu, sekitar 1980-an, produk yang sudah dilemparnya ke pasaran Ibu Kota, justru disita oleh pihak Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Alasannya, produksinya itu tak memiliki izin.

Berkenaan dengan peraturan itu, Masyhari mengimbau pemerintah agar membuat aturan yang sifatnya memberi keleluasaan bagi bisnis jamu. Pasalnya, dengan cara itu, pelaku usaha di bidang jamu bisa berkembang menjadi sosok pebisnis yang tangguh. “Kalau dua persen dari penduduk Indonesia bisa menjadi pebisnis, Indonesia akan maju,” tuturnya.

Masyhari juga mengingatkan bahwa industri jamu dalam usahanya sudah memberikan sumbangan pendapatan bagi negara hingga Rp 15 triliun. Industri jamu juga sudah mampu menyerap banyak tenaga kerja baik langsung maupun tidak langsung. Dengan nilai-nilai tambah ini, Masyhari berharap pemerintah memberi perhatian lebih besar agar industri jamu tidak terancam kebangkrutan lantaran terbebani oleh banyaknya peraturan.

www.kompas.com

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *