Create a Joomla website with Joomla Templates. These Joomla Themes are reviewed and tested for optimal performance. High Quality, Premium Joomla Templates for Your Site

Uchi, Konsep Kekeluargaan dalam Bisnis Jepang

Bacalah, Maka Kamu Pandai Menulis…
Februari 27, 2016
Metropolis 27 Feb
Tour Wisata Dharma Wanita Dinas Pertanian Kab Tuban
Februari 27, 2016

Uchi, Konsep Kekeluargaan dalam Bisnis Jepang

Rabu, 24 Februari 2016 | 06:16 WIB

Bondan Winarno dalam Kolom KIAT di Majalah Tempo (edisi tahun 1980-an) menggambarkan karakter khas orang/perusahaan Jepang sebagai berikut.

Seorang engineer Inggris yang bekerja di BBC akan memperkenalkan dirinya dengan berkata: Saya seorang engineer. Sejawatnya orang Jepang yang bekerja di NHK akan memperkenalkan diri: Saya bekerja di NHK.

Lebih jelas lagi, kita umumnya akan memperkenalkan diri kita dengan menyebut nama kita terlebih dahulu, baru menyebutkan afiliasi kita. Sedangkan orang Jepang akan memperkenalkan afiliasinya terlebih dahulu.

Seseorang bernama Hashimoto yang bekerja di NHK memperkenalkan dirinya dengan berkata, “NHK no Hashimoto desu.” Partikel no dalam kalimat tersebut bermakna “bagian”, artinya Hashimoto san ini memperkenalkan dirinya sebagai bagian dari NHK.

Bagi orang Jepang, perusahaan itu adalah uchi. Uchi artinya (bagian) dalam, dan lawannya adalah soto. Uchi juga berarti rumah.

Secara umum, dengan cara itulah orang Jepang menempatkan dirinya pada suatu lingkungan. Ia menempatkan dirinya di suatu titik, titik terdekat dari dirinya hingga suatu batas tertentu disebut uchi, dan yang di luar itu adalah soto.

Ini semua tercermin dari berbagai perlakuan, termasuk penggunaan tata bahasa dan kosa kata. Bahasa Jepang mengenal bahasa halus/penghormatan atau sonkeigo dan bahasa untuk merendah kenjougo.

Sonkeigo digunakan untuk pihak luar, sedangkan kenjougo digunakan untuk orang dalam. Soal ini akan saya jelaskan lebih detil dalam tulisan lain.

Orang Jepang melihat uchi dalam dua makna tadi, yaitu dalam (internal) dan rumah. Artinya, perusahaan bukan sekedar tempat bekerja, tapi juga rumah bagi karyawannya. Perusahaan dipandang sebagai sebuah keluarga besar.

Salah satu konsekwensinya adalah bahwa nama baik perusahaan harus dijaga. Baik dalam konteks bisnis perusahaan maupun dalam konteks kehidupan pribadi.

Dalam konteks bisnis hal itu diwujudkan dengan menjaga mutu produk maupun layanan. Dalam konteks pribadi, dalam kehidupan pribadi sekalipun, seseorang dianggap mewakili perusahaan. Pelanggaran lalu lintas yang fatal (misalnya mengemudi dalam keadaan mabuk) dapat membuat seseorang dipecat dari perusahaan.

Selain soal menjaga nama, konsep kekeluargaan ini muncul dalam bentuk beberapa karakter khas. Salah satunya adalah lebih menonjolnya identitas perusahaan pada diri karyawan ketimbang identitas profesi individu.

Ciri lain adalah rendahnya tingkat kepindahan karyawan. Sekali seseorang masuk ke sebuah perusahaan, umumnya dia akan bekerja di situ sampai pensiun. Pindah kerja dari suatu perusahaan ke perusahaan lain di Jepang masih terbilang langka, khususnya kalau dibandingkan dengan Indonesia.

Saya menduga konsep ini sejarah perjalanan bisnis Jepang yang memang khas. Umumnya bisnis di Jepang dimulai dari bisnis keluarga. Tak heran kalau nama perusahaan serta brand produknya memakai nama keluarga pendiri perusahaan itu.

Kita tahu bahwa Honda, Suzuki, Mazda (Matsuda), itu adalah nama orang. Ada juga yang menggunakan namanya secara nyentrik. Bridgestone itu didirikan oleh seseorang bernama Ishibashi yang artinya jembatan batu.

Di Jepang hingga saat ini kita bisa menemukan perusahaan kecil-menengah yang dikelola dengan basis bisnis keluarga. Produknya variatif, mulai dari produk tradisional (yang sejak dulu memang dikerjakan secara turun temurun) seperti kecap (shoyu), miso, hingga produk manufaktur. Demikian pula di sektor jasa. Bisnis dikepalai oleh bapak (oyaji) sebagai shacho (direktur utama), kalau nanti dia pensiun biasanya akan diteruskan oleh anaknya.

Beberapa bagian dari konsep kekeluargaan itu bertahan meski perusahaan membesar, mendunia, dan mengadopsi konsep manajemen modern.

Konsep ini kerap memunculkan masalah ketika perusahaan Jepang berbisnis di luar Jepang. Konsep kekeluargaan menjadi kabur maknanya. Mereka sendiri saya duga tak siap untuk memasukkan orang-orang lokal ke dalam lingkaran kekeluargaan mereka.

Orang lokal sulit dianggap sebagai bagian dari uchi. Tak sedikit yang merasakan adanya diskriminasi. Ada orang yang bercerita bahwa di perusahaannya toilet saja dipisahkan, untuk staf Jepang dibuatkan toilet khusus, yang tidak boleh dipakai oleh orang lokal (kebenaran dan situasi kontekstualnya tidak saya konfirmasi).

Tapi pada saat yang sama dalam banyak kasus mereka tidak menyadari hal itu. Sering mereka heran melihat rendahnya rasa memiliki pada karyawan mereka.

Mereka heran ketika serikat pekerja, misalnya, tak jarang memperlakukan perusahaan sebagai musuh, bukan sebagai rumah tempat para pekerja itu bernaung. Padahal, menurut hemat saya, itu sebuah konsekwensi logis. Anak yang tak jelas diterima atau tidak di suatu rumah, tak akan merasa nyaman di rumah itu.

Sumber : Kompas.com

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *